Warisan dari dua dapur yang tak pernah benar-benar berpisah.
Rasa Lidah Londo lahir dari catatan resep keluarga yang menyeberang lautan bersama pedagang rempah — sebagian ditulis dalam bahasa Melayu pasar, sebagian dalam bahasa Belanda lama. Kami membacanya ulang, memasaknya kembali, dan menyajikannya tanpa menyembunyikan asal-usulnya yang bercampur.
Setiap hidangan di sini adalah perjumpaan: rendang yang bertemu bitterballen, soto yang berbicara dengan erwtensoep, dan penutup manis yang menyimpan gula aren di balik nama Belanda.
- Bumbu digiling segar setiap pagi dari pasar rempah lokal
- Teknik masak lambat khas dapur kolonial, tanpa jalan pintas
- Menu berganti mengikuti musim panen rempah Nusantara